Di sini, Korea, aku tidak melihat embun pagi. Hanya salju yang turun bagai hujan kapas, dingin membekukan tulang. Mantel tebal lah yang menjadikan aku dapat tenang berdiri di depan pintu ini.
Hujan salju, mengingatkanku kepada hujan di depan rumahku dan aku berdiri seperti saat ini di pagi-pagi buta. Matahari belum terbit dan pemandangan sawah di depan rumahku masih kabur disapu malam. Hujan turun dengan lebat hingga mentari akan terbit, menyisakan kesejukan dan bulir-bulir air bercampur dengan embun. Entah, embun ataukah bulir hujan, tiada terbedakan karena bulirnya sama.
Kesejukan dari curahan hujan, berbaur dengan kehangatan dari sang mentari. Senyum bulir embun menyeruak cerah berkilau-kilau, membuat torehan-torehan terang di sisa-sisa kegelapan dalam kamarku. Surgakah saat itu? Begitu sejuk dan bersahaja. Namun, hanya itu yang kutahu dan kurasakan sebagai hadiah dari sang pencipta.
Salam bahagia

