hari telah berlalu beberapa jam,
ketika bunga layu dan kehilangan kesegarannya,
murung tertunduk dalam kekalutan pikiran,
terburai dalam untai rambut yang tak tersisir,
semua serba lesu,
dan kata-kata pun keluar dengan sekenanya,
keruh bagai udara di siang hari tanpa hujan setahun,
debu-debunya terbang menyusup di antara celah bulu mata,
mengendap dan membuka iritasi yang menyakitkan mata.
hingga tengah malam tiba,
bersama debu dan kekalutan yang tiada tuan,
semangat mengendap dalam angan-angan mimpi,
dibalut selimut dingin dari angin perbukitan,
diramaikan tetabuhan hujan di atas atap genteng kemerahan.
debu mengendap, dan bercampur dengan kekalutan hati,
bergulat dan mengental menjadi lumpur hitam masa lalu,
mengalir lambat dalam nafas halus mendesah,
ditemani daun-daun yang mandi berbasah-basah,
menyingkap tirai mimpi sang bunga dari taman impian,
dalam kekelaman yang telah menjadi terang,
hangat dibalut dekapan sang surya.
embun dan sisa bulir hujan menempel,
di ujung ilalang hitam lentik menghias miniatur langit menghitam,
sebening hati, tiada bekas debu, semua telah hanyut,
ke muara masa lalu, menyisakan kecerahan mahkota dan bibir yang mekar,
menebar keharuman terwangi ke penjuru dunia,
memandarkan keindahan taman bunga yang kembali,
saat musim semi telah tiba di taman hati,
di sebuah kerajaan surga sang bidadari.
Salam bahagia

