Pagi telah berlalu, meninggalkan cahaya indah keemasan,
bulir-bulir permata pagi telah terbang menguap,
entah kemana dia terbang menghilang,
meninggalkan sendu ilalang bak induk beranak hilang.
panas menderu menyapu debu,
dipapahnya terbang mengangkasa melanglang buana,
mengepakkan sayap-sayap impian hingga ke nirwana,
menyapa bunga-bunga dengan sentuhan-sentuhan kaku,
menjejak mahkota-mahkota putih dengan kaki-kaki kelabu.
kering, menyerap kesejukan yang tersisa dalam bulir embun,
diteteskan dari sisa kabut yang telah enggan mengelana lembah,
kini diminum bulir debu yang berarak mengantri menggelinding.
lembut menutup mekarnya keindahan dalam terpaan mentari.
angin datang, menggoyang,
membiarkan sang bunga melenggang,
berharap debu takut dan terbang,
membawa keindahan cinta hingga ke awang,
mengabarkan segarnya pagi yang telah hilang.
bunga cintaku yang mekar dengan sejuta pesona,
diamkan, hari khan datang dengan segenggam harapan,
menunggu angin datang membawa bulir kabut berantrian,
terbang merendah dan singgah menghias permadani mahkota keindahan,
memandikan dirimu dalam keindahan berhias senyuman,
hingga hari dimana masa bahagiamu datang tiada hentian.
Salam bahagia
