Kesejukan tiba-tiba hilang, terang tiba-tiba menjadi gelap,
ingatan tiba-tiba mati, dan terhenyak bungaku mendapati tidur,
dia berhenti sejenak, mengusap mata dan mencoba memandang,
langit telah kelam, malam telah datang.
Kesegarannya dalam helai mahkota tampak kusut,
warna mahkota telah reda terganti kelabu,
ditinggal embun yang tercuri panasnya kekalutan,
menyisakan bungaku tertunduk layu,
hingga tersadar ketika pucuknya mencium bumi.
bungaku, kubawakan setetes embun untuk diteguk,
mungkin cukup agar engkau dapat terduduk,
hingga dapat kucarikan air hujan di sebuah waduk.
bungaku, mungkin tak dapat kubawakan kini terang mentari,
namun kubawakan lentera agar indahmu kentara,
menampakkan pesonamu kepada dunia.
bunga terindahku, ku ada sebuah lap basah,
mungkin cukup tuh membasuh wajah,
mengembalikan kerut muka tuk menjadi cerah,
inginku senyum dan matamu tertatap indah,
mekar segar dan menatap bening tanpa rasa gundah.
bunga terindahku, kubawakan selimut tuk hangatkan dirimu,
menghapus dingin yang menjadikanmu menggigil,
mekarlah dengan sejuta pendar cahaya keindahanmu,
biarkan layu itu pergi dari semua relung hati,
ceriamu sudah ditunggu kekupu yang khan bangun menjelang pagi.
bunga terindahku, betapa indahnya dirimu saat mekarmu,
betapa merdunya suaramu saat cerah mengisi hatimu,
betapa perkasa dirimu saat kesejukan mengisi senyummu,
kutunggu dirimu, memekarkan senyum indah diatas langit putihmu.
salam bahagia
