Hari yang melelahkan, badanku lengas dan haus, bagai cuaca dunia yang gerah. Aku segera minum menghapus kelengasan dan kehausan, bagai langit yang menghisap air dari danau dan lautan, begitu ganas dan dengan sekejap kegerahan badanku menjadi sirna, berganti dengan timbunan kelembaban dan harapan kegerahan yang berakhir. Mendung-mendung air dari gelas itu bergulung-gulung dalam relung perut yang berlekuk-lekuk, menyusup dalam setiap relung pembuluh dan setiap celah badan, mengisinya dengan kesejukan, melarutkan setiap bulir kelelahan yang bersembunyi dari pengamatanku.
Hujan keringat telah datang , bersama semangatku yang menyala-nyala mengunyah sisa kimchi yang tersisa beberapa helai dalam bungkus plastik bening. Kilat mataku menyalak keras menatap helai kimchi yang semakin habis, menjadikan hujan keringat yang menghanyutkan setiap bulir kelelahan mengucur semakin deras.
Kegerahan dan kelelahan pun kini sirna. Cuaca sudah cerah, menyisakan wajah duniaku yang cerah. Ada bulir-bulir permata tersisa di ujung-ujung helai daun-daun penutup mata. Dan kata temanku, ada “pelangi indah melengkung di bawah mataâ€, terselip di ujung hari ini, menandai lenyapnya hari yang diselimuti rasa gerah.
Baca artikel pendahuluan: Menyambut sang raja
Salam bahagia

[...] Pelangi Penghujung Hari Sauna [...]