Wahai, bidadariku, telah kutempuh jalan teramat panjang, berliku dan berduri-duri, beragam warna dan beragam rasa. Sepanjang waktu tak jua ku berhenti tuk sekedar jeda berpikir tentang jalan yang masih panjang di depan mata, tak pernah kupikir ada apa di sana, hanya jalan maju dan maju.
Jalanku, pelayaran kehidupanku, bidadariku, mencari sebuah tempat rindang bagi jiwaku yang lahir dari tempat yang gelap. Inginku, bidadariku, hatiku berlabuh di tempat dalam naungan daun yang selalu menebarkan kesejukan, dalam selimutan cahaya terang benderang, dalam balutan kehangatan kasih sayang dan penuh dengan keindahan bunga yang segar berhias bulir embun.
Dan ketika kulihat dirimu, bidadariku. Kulihat itu bidadariku. Indahnya senyummu adalah bunga terindah di jagat raya. Cintamu adalah balutan kasih sayang tiada batas, dan perhatianmu adalah kesejukan yang selalu memberikan rasa kenyang terhadap laparku.
Kuingin wahai bidadariku, tambatkan jangkar kano kehidupanku, menginjakkan kaki dan beristirahat di pelabuhan hatimu, menikmati secangkir susu kasih sayang dan cinta mu, menikmati alunan kemerduan cekikikanmu dan memandang bunga merah tipis mekar di wajahmu.
Pelabuhan hati, bidadariku. Biarkan ku beristirahat padamu, tuk merencanakan hari depan hingga akhir hayatku.
Salam bahagia
