Pada suatu hari, saya begitu perhatian dengan kejadian di lingkungan. Sebulan yang lalu, saya menanam cabai dan sereh di dalam pot. Demikian juga dari biji paria yang saya buang di dalam pot tumbuh menjadi tanaman paria.
Adalah secara kebetulan saya melihat tanaman cabai saya tiada berdaun di dahannya yang rendah. Demikian juga tanaman paria yang merambat tiada berdaun. Semua daunnya habis, tiada ulat dan tiada belalang. Kejadiannya dekat dengan saat tuan rumah kos memelihara ayamdan dibebaskan berkeliling. Demikian pun saya perhatikan di kebun pisang tetangga dimana pisang yang masih kecil tiada berdaun, daunnya habis.
Di suatu pagi, saya berkesempatan melihat kebun pisang tetangga dan terlihat beberapa ayam sedang berebut makan daun pisang yang tersisa. Demikian hebat, dimusim makanan begitu langka akibat tiada orang menaruh sesaji di depan rumah dan di tempat-tempat tertentu, ayam dan burung-burung kesulitan memperoleh makanan. Terutama untuk daerah kota dimana tiada orang bertanam padi-padian, maka semakin sulit burung-burung pipit dan burung gereja memperoleh makanan. Bahkan ayam-ayam yang dibebaskan berkeliling, sangat sulit memperoleh makan. Di saat itu, untuk menyelesaikan rasa laparnya mereka makan daun-daunan untuk mengisi perut.
Kemudian, saat tempat kos sedang sepi, ayam-ayam tuan rumah tidak banyak keluar dari lingkungan rumah dan tampak ayam-ayam itu ramai di sekitar pot milik saya yang ditanami cabai, sereh dan paria. Bukan karena nasi, beras atau biji-bijian mereka ramai di situ, justru karena di situ ada daun yang dapat mereka makan,yaitu daun cabai dan daun paria. Daun paria yang pahit pun mereka makan denagn suka cita.
Sesaat terpikir, bahwa ayam justru lebih bahagia dan lebih survive daripada manusia. Mereka berpikir begitu bebas, tidak ada beras maka daun pun jadi. Tidak sebagaimana manusia di kota saat ini, tiada beras maka nerakapun jadi. Sungguh tragis.
Salam bahagia
