Beberapa hari yang lalu, mendung tebal menyelimuti kota, menembus mata setiap orang di dalam tempatku bekerja, ada ketakutan jika hujan begitu lebat, banyak hal terpikir, “bagaimana saya jika hujan lebat?†Berbagai alasan dikeluarkan, mengisahkan kepenatan mereka dalam penungguan dan ketidakpastian.
Beberapa teman meringkuk di sudut dinding, menyaksikan awan kelam bergulung berbaris rapat menuju bukit nun jauh di sana, terhenyak mereka mencipta kesunyian, sambil sesekali menyeka awan kekhawatiran yang membasahi mukanya.
Tiba-tiba, sebuah motor tua, berhenti di depan mereka, dengan lambat dikuakkan kaca helm yang tak tembus mata, bersama gerai rambut berkilau bak permata, Diiring degup jantung di dalam dada.
Sebuah senyum terbit dalam hamparan wajah seputih purnama, bersinar cerah menerangi cakrawala, merasuk cahayanya menembus kalbu, menyapu mendung di setiap muka temanku.
Sesejuk embun, seterang mentari, senyum bidadari itu, menghentikan kehampaan dan kekosongan dalam kebosanan.
Salam bahagia
