Kekasihku, bidadari tercantik di dunia,
dengarkan detak jantungku,
dengar debarnya keras memenuhi rongga dada,
sehari telah ia temani diriku melalanglang buana,
bekerja agar nikah nanti cukuplah dana,
menjadikan kita di masa depan bersama.
Bagaikan mesin dia bekerja,
Dengan sigap darah mengalir, mendinginkan,
Menjadikan keringat bercucuran,
Mengendapkan sisa di kulit yang peka,
Memberi rasa gatal lebih menyiksa dari luka.
Lengas, lengket mendera bak panas di tanah gurun,
Panas tanpa dapat keluar air dari matanya,
Teriring mata yang kian perih dari sisa garam di sudut mata.
O bidadariku, karena cinta ku kejar,
Dalam semangat membara agar kita bersama,
Menerima lelah dan lengas hingga ke ruang dada,
Demi engkau, bidadariku tercinta.
Karena cintaku padamu, permata hatiku,
Biarlah lengas datang bertubi tiada jeda,
Senyummu adalah basuh air dari langit cinta,
Melenyapkan siksa yang hendak menyerang kalbu.
Salam bahagia
