Dulu, saat hujan turun dan aku berteduh di bawah pepohonan dan di emper sebuah toko di tepi jalan, diberikannya sebuah pemikiran. Suatu saat nanti, engkau kekasihku, orang yang teramat kucintai dan teramat mencintai aku, mungkin engkau memerlukan kehadiranku, terlebih untuk sebuah kejadian yang teramat penting dalam kehidupanmu.
Jika aku berteduh menghindar dari hujan, waktu khan tetap berlalu dan dapat saja aku terlambat tiba kepadamu, bidadariku, dan dapat saja ini menjadikan semuanya berubah total, dan dapat saja semua kisah dapat berakhir hanya karena aku berteduh selama satu menit. Terlebih lagi, hujan bukanlah kejadian semenit dua menit, hujan dapat turun sejam atau sehari, tiada batas pasti, membawakan ketidakpastian tibanya aku kepadamu bidadariku, orang yang kucintai.
Dan karenanya, kubelajar menata pikiranku dan mencoba melihat hujan ini bidadariku, bahwa hujan tidak boleh menghentikan upayaku atau membuat aku merasa menderita, karena aku harus tiba kepadamu bidadariku, orang yang sangat aku cintai. Kubelajar dan kulatih mengubah semuanya, menjadikan hujan itu sebagai kesenanganku, hingga aku kini menyukai hujan dan berakhirlah derita karena ketakutanku akan hujan. Hujan kini adalah kesenanganku wahai bidadariku.
Ketika hujan menjadi kesenanganku wahai bidadariku, aku khan nikmati setiap curah hujan, dan kutak kan berhenti dalam perjalananku menjumpai dirimu, bidadariku dan menjadikan ku lebih pasti, aku dapat hadir kepadamu ketika kamu membutuhkan kehadiranku, kekasih hatiku. Sebab engkau teramat berharga, bidadariku, wanita yang teramat aku cintai.
Dengan ketulusan doamu mengharapkan kehadiranku o kekasihku, aku akan datang kepadamu kekasihku, walaupun aku harus menembus hujan lebat. Karena engkau teramat berharga, engkau teramat kucinta.
Hujan akan menjadikan jalan lebih lapang, dimana aku dapat berjalan lebih tenang, dan rasa lelahku akan hilang, karena terbasuh bulir air yang terus menerus datang.
Salam bahagia
