Rumahku yang dibukit hijau di kediri, dulu sejuk segar udaranya menyapa pagi hingga sore, ada suara burung berkicau ramai dengan iringan kupu-kupu bercanda hinggap di setiap bunga, ditonton oleh buah-buah matang dari rambutan dan mangga di ladang.
Berselang empat tahun, dan terakhir saat ini, ketika aku dari korea kini pulang, hendak kesegaran itu kudulang, rindu dada sejuk yang begitu lapang.
Sejuk pagi menyusup hingga ke hati, datang dia dari Gunung Kidul yang sunyi, menghadiahkan burung-burung yang bernyanyi. Hari berjalan dan siang datang, semua hewan bergerak masuk ke kandang, berteduh sambil berdendang, bercerita tentang panas yang telah datang.
Panas, siang hari kini teramat panas, cuaca telah berubah dengan demikian cepat.
Kucoba duduk di bawah pohon rindang, tak terkira hati begitu senang, diiring hati yang tiada henti berdendang, tentang kesejukan dilindung daun hijau membentang.
Akhhh, sejuk dan segar. Di siang yang panas ini, hanya tumbuhan yang mendatangkan kesejukan penghapus panasnya siang, menjadikan inspirasi kini terbentang. Biar sejengkal tanah coklat tanpa tumbuhan di depan rumahku, yang berlumpur di musim hujan dan kering di terpa musim panas, kutanami dan kuhijaukan dengan sebatang rumput hijau halus, biar lebih indah kupandang, dan biar kunikmati sejuknya sambil berdendang.
Salam bahagia
