Angin datang semilir, tanpa embun,
hanya sejuknya mengalir bersama sisa-sisa kehangatan yang kian tenggelam di ufuk barat.
kuterdiam di sini, di ruangan ini dengan pikiran berdiri di atas gedung ini,
sebagaimana yang sering kupandang,
kota denpasar yang semakin gersang,
kehilangan butir-butir embun penyejuk hati,
tenggelam dalam hati yang panas membara,
terbakar dalam kemarau pergulatan mengejar harta.
Ada sekelompok anak-anak bermain ria,
mengingatkan dan terbayang betapa bahagia mereka,
bersama kerut dahi, akan ini akan menjadi nyata?
dapat disaksikan mata ketika usia telah ada di depan mata?
kuhanya terdiam, memajang masaku dalam bayang-bayang,
menghadirkan semua kenangan dari lingkungan,
betapa sulit tawa itu tersaksikan dalam kebebasan,
berganti dengan intrik dan kekhawatiran,
hilangnya kesejukan hati yang menghadirkan keceriaan,
hilangnya embun yang membawa kecerahan muka,
dan hilangnya kepercayaan tuk menatap masa depan.
embun-embun hati, kini memang kebanggaan,
kenangan terhadap kejayaan masa yang telah lewat dalam perjalanan,
mungkin, teramat sulit direngkuh tangan.
mungkin seperti ac ini, dingin sendiri,
terkurung dalam ketidakpedulian dan ketidaktahuan,
bertemu kenyataan akhirnya berkernyit dahi,
bahwa kesegaran dingin ini kering tiada kelembaban,
jauh dari kesejukan embun yang membasah hingga ke hati.
==
Salam bahagia
