Tiada hujan, hanya angin telah datang,
berputar menerbangkan debu dan menghapus kesejukan,
yang ada hanya kering kerontang.
Daun-daun telah beterbangan,
jatuh terteluungkup dari sisa dahan pepohonan,
bersama rontoknya helai-helai makhota hitam legam,
terbakar dalam kekalutan, tiada kesejukan.
Bumi menggeliat, keringat telah habis mengucur,
menyisakan kulit begitu lengas,
kering dengan bulir-bulir garam yang mengeras,
bak bebatuan yang terdiam, hitam keras,
dalam arang-arang legam sisa dahan yang telah hancur.
Ketika engkau datang, wahai bidadariku,
mengucur deras bak bulir embun kerajaan langit,
membasahi bibir dan semangat yang kian pudar,
memberikan warna hijau atas mata yang telah kosong.
Embun hati, engkau bidadari dengan bulir kesejukan,
membawa kesegaran semangat yang telah tertidur,
membuka hari yang mendekati hancur,
mengakhiri masa kering bak daratan yang dilanda kebakaran.
Salam bahagia
