Seekor burung terbang rendah,
Sambil berkicau dia kurangi kepakan sayapnya,
Kakinya terbuka dan hinggap di atas genting coklat,
Ditunggu oleh burung lain yang menyapanya dengan ramah.
Di sebuah cekung genting itu,
Bak lembah di sebuah perbukitan,
Mereka bercanda ria memungut sisa makanan,
Entah makanan apa yang mereka dapatkan.
Bilah-bilah cahaya mentari membuat perca-perca warna,
Timbul tenggelam dalam gelombang genteng merah,
Beratapkan langit biru berbedak putih.
Tiada keindahan, namun benarkah tiada keindahan?
Kurasa ada yang salahdengan diriku,
Kemarin malam diriku begitu suntuk,
Tiada yang dapt di pandang, tiada yang dapat diingat,
Hanya gelap dari seberang jalan,
Hingga bukit kehijauan nun jauh di sana.
Harusnya, betapa senang hatiku saat ini,
Karena kini terbentang warna bak pelangi,
Mengakhiri kelamnya hari berselimut mimpi,
Diiring nyanyi-nyanyi berasa ngeri.
O dunia, diriku yang tak tahu diri,
Menatap dirimu di hadaan sang mentari,
Mungkin karena hal ini biasa kuhadapi,
Menjadikan semua tampak tiada arti.
Salam bahagia
download file pdf: dunia-dalam-tatap-mentari
